ADRA Indonesia Perkuat Kapasitas PSEAH melalui Pelatihan Manajemen Kasus dan Investigasi

Jakarta, 13 Agustus 2026 — Komitmen untuk memastikan lingkungan kerja dan program kemanusiaan yang aman, bermartabat, dan bebas dari eksploitasi, penyalahgunaan, serta pelecehan seksual terus menjadi perhatian penting bagi organisasi kemanusiaan. Dalam upaya memperkuat kapasitas tersebut, ADRA Indonesia melalui perwakilannya, Ibu Bellatrix Bogar, mengikuti Pelatihan Orientasi Investigasi dan Manajemen Kasus PSEAH (Protection from Sexual Exploitation, Abuse and Harassment) bagi pekerja kemanusiaan dan pembangunan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Humanitarian Forum Indonesia (HFI) bekerja sama dengan PSEAH Network Indonesia dan Catholic Relief Services (CRS) pada 11–13 Agustus 2026 di Hotel Tamarin, Jakarta Pusat. Pelatihan tersebut mempertemukan berbagai organisasi kemanusiaan untuk memperkuat pemahaman dan kapasitas dalam pencegahan serta penanganan dugaan eksploitasi, penyalahgunaan, dan pelecehan seksual dalam sektor kemanusiaan.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai manajemen kasus yang berpusat pada korban atau penyintas (survivor-centered approach), mekanisme pelaporan yang aman, serta prinsip-prinsip dasar investigasi yang objektif dan sensitif terhadap kebutuhan penyintas. Pendekatan tersebut menempatkan keselamatan, martabat, hak, kebutuhan, dan pilihan penyintas sebagai bagian penting dalam proses penanganan kasus.

Selain aspek manajemen kasus dan investigasi, pelatihan juga menekankan pentingnya membangun sistem kelembagaan yang mampu mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan menciptakan mekanisme pelaporan yang dapat dipercaya. Dalam konteks kerja kemanusiaan, prinsip Do No Harm menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan tidak justru menimbulkan risiko atau dampak buruk bagi masyarakat yang dilayani.

Bagi ADRA Indonesia, peningkatan kapasitas dalam PSEAH merupakan bagian penting dari komitmen untuk memastikan bahwa setiap program dan interaksi dengan masyarakat dilakukan dengan mengedepankan keselamatan, martabat, dan perlindungan bagi semua pihak.

“Perlindungan bukan hanya tentang memiliki kebijakan, tetapi juga tentang memastikan setiap orang memahami bagaimana mencegah, mengenali, melaporkan, dan merespons dugaan pelanggaran dengan tepat,” menjadi semangat yang relevan dalam penguatan kapasitas pekerja kemanusiaan melalui kegiatan ini.

Keterlibatan ADRA Indonesia dalam pelatihan ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat pembelajaran dan praktik safeguarding di lingkungan organisasi. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat mendukung peningkatan kesadaran staf, penguatan mekanisme internal, serta penerapan pendekatan yang lebih aman dan berpusat pada penyintas dalam pelaksanaan program.

Sebagai organisasi yang bekerja bersama masyarakat dalam berbagai konteks kemanusiaan dan pembangunan, ADRA Indonesia meyakini bahwa bantuan yang berkualitas bukan hanya tentang menjangkau mereka yang membutuhkan, tetapi juga tentang memastikan setiap orang yang terlibat dalam proses tersebut merasa aman, dihormati, dan terlindungi.

Melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak, ADRA Indonesia terus berupaya membangun budaya organisasi yang menjunjung tinggi integritas, akuntabilitas, perlindungan, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu.

Berita terkait lainnya

en_US