Di Tengah Guncangan, Bidan Enzi Memilih Tetap Menolong

"Di Tengah Guncangan, Bidan Enzi Memilih Tetap Menolong

Pagi itu, Flores diguncang gempa.

Dalam hitungan detik, rasa aman berubah menjadi kepanikan. Orang-orang berusaha menyelamatkan diri, memastikan keluarga mereka baik-baik saja, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Bidan Kresensia Poto—atau yang akrab disapa Bidan Enzi—juga merasakan guncangan itu.

Saat gempa terjadi, ia belum berada di tempat kerja. Hari masih pagi dan aktivitas belum dimulai. Seperti keluarga lainnya, hal pertama yang ia lakukan adalah memastikan keluarganya aman.

Namun setelah itu, pikirannya kembali kepada orang-orang yang selama ini ia layani.

“Sebagai manusia, hati kita tergerak. Apalagi kita seorang nakes, pasien menjadi sasaran nomor satu,” ujarnya.

Bidan Enzi kemudian memutuskan untuk bergabung sebagai relawan ADRA. Bersama tim, ia membantu melakukan pencarian dan pengumpulan informasi mengenai kebutuhan masyarakat terdampak di sejumlah wilayah, termasuk Desa Dhawe, Nggolombay, Mbay I, Nangadhero, dan Marapokot di Kecamatan Aesesa.

Bagi Enzi, keputusan itu bukan karena ia tidak merasakan dampak bencana. Ia sendiri berada dalam situasi yang terdampak.

Namun ia percaya bahwa selama masih memiliki kesempatan untuk membantu, ia ingin menggunakannya.

“Sementara ini kita berjalan sendiri, bersyukur, kita masih diberi napas kehidupan, jadi masih bisa membantu.”

Datang untuk Mendengar

Menjangkau masyarakat terdampak bukan perkara mudah.

Beberapa wilayah masih dapat dilalui dengan kendaraan, tetapi perjalanan menjadi lebih menantang ketika tim harus menjangkau masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan. Jarak yang jauh dan medan yang sulit membuat perjalanan membutuhkan waktu dan tenaga lebih.

Namun bagi Bidan Enzi, perjalanan tersebut bukan sekadar tentang mencapai sebuah lokasi.

Ia datang untuk mendengar.

Dari rumah ke rumah, ia mendengarkan cerita masyarakat tentang apa yang mereka alami, apa yang hilang, dan apa yang mereka butuhkan.

Kebutuhan perlengkapan tidur menjadi salah satu persoalan yang banyak ditemukan. Fasilitas kesehatan dan ketersediaan obat juga masih menjadi perhatian. Sementara itu, kebutuhan pangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan, tetapi juga jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk anak-anak, orang dengan kondisi kesehatan tertentu, dan ibu hamil.

Tetapi dari semua kebutuhan tersebut, Enzi menemukan bahwa terkadang masyarakat membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

seseorang yang mau datang dan mendengarkan.

“Walaupun kita tidak bantu barang, ketika kita datang, mereka bisa bercerita.”

Kehadiran menjadi bentuk bantuan tersendiri. Ketika seseorang mau mendengarkan, masyarakat merasa bahwa apa yang mereka alami tidak luput dari perhatian.

Flores dan Kekuatan untuk Saling Menolong

Di tengah situasi sulit, Bidan Enzi juga melihat kekuatan yang tumbuh dari masyarakat Flores sendiri.

Kekerabatan yang kuat membuat masyarakat tidak hanya menunggu bantuan dari luar. Mereka saling membantu dengan apa yang mereka punya.

Ada yang berbagi makanan. Ada yang membantu tetangga. Ada yang memastikan keluarga lain dalam keadaan aman. Bahkan mereka yang tidak saling mengenal pun tetap berusaha membantu ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.

“Mungkin tidak kenal, tetapi tetap membantu,” ungkapnya.

Semangat itu juga terlihat di lingkungan puskesmas. Tenaga kesehatan dan masyarakat sama-sama menghadapi kepanikan, tetapi perlahan mereka kembali bergerak untuk memastikan satu sama lain tetap mendapatkan pertolongan.

Bagi Bidan Enzi, bencana mengingatkannya bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Dalam keadaan darurat, pelayanan berarti datang kepada mereka yang membutuhkan.

Mendengarkan cerita mereka.

Memahami kebutuhan mereka.

Mencatat apa yang diperlukan.

Dan ketika belum mampu memberikan banyak hal, setidaknya hadir untuk mengatakan:

“Kamu tidak sendiri.”

Bidan Enzi mungkin masih membawa rasa takut dan dampak dari gempa yang ia alami sendiri. Namun ia memilih untuk terus melangkah.

Dari Dhawe, Nggolombay, Mbay I, Nangadhero hingga Marapokot, ia kembali hadir di tengah masyarakat.

Bukan hanya sebagai seorang bidan.

Bukan hanya sebagai relawan.

Tetapi sebagai seorang manusia yang, setelah merasakan guncangan, memilih untuk tetap menolong.

Berita terkait lainnya

en_US