Minahasa Utara, 19 September 2026 — ADRA Indonesia memenuhi undangan pemuda dari empat gereja di District Minama untuk memperkenalkan konsep Disaster Ready Church dalam sebuah kegiatan pemuda yang berlangsung pada Sabtu sore, 19 September 2026, di Perum Agape, Minahasa Utara. Keempat gereja yang terlibat adalah Gereja Pioneer, Gereja Agape, Gereja Tiga Malaikat Tumaluntung, dan Gereja Student Hills.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para pemuda untuk memahami bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai bencana, tetapi juga dengan kemampuan gereja mengenali dan mengorganisasi sumber daya yang sudah dimilikinya untuk membantu masyarakat di sekitarnya. Sesi tersebut dipimpin oleh Ralfie Maringka, Church Communication Officer, ADRA Indonesia, atas undangan dari pemuda dan Pdt. Stephen Mona.
Dalam sesi Disaster Ready Church, peserta mengikuti sebuah permainan simulasi yang membagi mereka ke dalam dua kelompok dengan peran yang berbeda. Satu kelompok berperan sebagai komunitas yang terdampak bencana dan diminta mengidentifikasi berbagai kebutuhan yang muncul dalam situasi tersebut. Kelompok lainnya berperan sebagai gereja yang merespons keadaan darurat dengan mengidentifikasi berbagai sumber daya dan kapasitas yang dapat mereka bagikan kepada masyarakat.
Setelah masing-masing kelompok menyusun kebutuhan dan sumber daya mereka, kedua kelompok kemudian dipertemukan untuk mencari kecocokan antara kebutuhan komunitas dan kapasitas yang tersedia di gereja. Melalui aktivitas ini, peserta diajak melihat bahwa gereja sebenarnya memiliki berbagai sumber daya yang dapat digunakan dalam situasi bencana, baik berupa tenaga, keterampilan, fasilitas, jaringan, maupun sumber daya lainnya. Namun, sumber daya tersebut sering kali belum dikenali, dipetakan, atau diorganisasi secara khusus untuk mendukung respons terhadap bencana.

Pembelajaran tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan Disaster Ready Church, yang mendorong gereja untuk membangun kesiapsiagaan berbasis komunitas dan memahami bagaimana gereja dapat menjadi bagian dari sistem dukungan bagi masyarakat ketika terjadi bencana. Kesiapsiagaan tidak hanya berarti mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga mempersiapkan kapasitas gereja sebelum keadaan darurat muncul.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan secara singkat kepada Tanda Kepahaman yang dikembangkan melalui ADRA dan pelayanan kepemudaan gereja. Tanda Kepahaman tersebut merupakan salah satu sarana untuk memperlengkapi generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pelayanan, kemanusiaan, kepemimpinan, dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai tantangan di masyarakat.
Bagi pemuda gereja, pembelajaran mengenai Disaster Ready Church memberikan perspektif bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Gereja dan anggotanya dapat mulai mempersiapkan diri dengan mengenali kapasitas yang tersedia, memahami kebutuhan komunitas, membangun koordinasi, serta mengembangkan sistem yang memungkinkan sumber daya tersebut digunakan secara efektif ketika dibutuhkan.
Kegiatan bersama empat gereja di District Minama ini menjadi salah satu langkah awal untuk memperkenalkan prinsip kesiapsiagaan bencana kepada generasi muda sekaligus mendorong gereja untuk melihat kembali potensi yang mereka miliki. Melalui pendekatan yang interaktif dan partisipatif, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan dengan kapasitas yang dimiliki gereja.





