Camporee EIUC

Speak Lord: 1.800 Pathfinder Region 1 Belajar Pelayanan Lewat ADRA Honors

Sulawesi Utara | 27 April – 2 Mei 2026 — Tenda berbaris rapi, suara peluit, dan teriakan “Speak Lord!” menggema di lapangan perkemahan selama enam hari penuh. Sekitar 1.800 pelajar dari sekolah-sekolah Advent di Region 1 — Minahasa Utara, Manado, Maluku Utara, Minahasa, Bolaang Mongondow Raya, dan Nusa Utara — berkumpul dalam Education Pathfinder Camporee yang digelar oleh East Indonesia Union Conference (EIUC) di kampus Universitas Klabat.

Camporee secara resmi dibuka oleh Pdt. Ronald Rantung selaku Ketua UNI Timur, didampingi Pdt. Pierson Doringin dan Pdt. Larry Raranta. Pembukaan juga dihadiri oleh Felly Estelita Runtuwene Ketua Komisi IX DPR RI sebagai perwakilan pemerintah setempat.

Mengangkat tema “Speak Lord”, perkemahan ini bukan sekadar ajang berkemah. Pathfinder Club adalah program kepemudaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh untuk anak usia 10–15 tahun yang menggabungkan petualangan, pelayanan masyarakat, dan pertumbuhan rohani. Camporee menjadi puncak setahun kerja keras klub: aktivitas bersama antar institusi, kenaikan kelas Pathfinder, pelantikan Master Guide (MG), dan — yang paling dinanti — perburuan tanda kepahaman (honors).

20 Tanda Kepahaman, 4 dari ADRA

Dari 20 tanda kepahaman yang dibuka di camporee kali ini, empat di antaranya datang dari ADRA Indonesia: Community Assessment, Community Services, Community Development, dan Disaster Response (Basic). Tiga honor pertama berakar pada keterampilan pengembangan masyarakat — mulai dari memetakan kebutuhan komunitas, melayani, hingga merancang program pengembangan. Sementara Disaster Response membekali peserta dengan dasar-dasar tanggap bencana, satu keterampilan yang sangat relevan untuk konteks kebencanaan di Indonesia.

Setiap tanda kepahaman dirancang sebagai mata pelajaran praktis yang berdampak langsung pada gaya hidup dan perkembangan peserta — dari sisi sosial, emosional, fisik, hingga spiritual. ADRA Honors sendiri punya posisi khusus: dikembangkan oleh ADRA — Adventist Development and Relief Agency — dan disetujui oleh General Conference khusus untuk Pathfinder di luar Amerika Utara. Tujuannya sederhana tapi serius: anak muda Advent tidak hanya tahu tentang kasih, mereka belajar mempraktikkannya.

Delapan Fasilitator, Latar Belakang Lapangan

ADRA Indonesia menerjunkan delapan fasilitator untuk mengajar empat kelas tersebut. Sebagian besar berlatar belakang sebagai pekerja community development, dosen, dan penggiat pelayanan masyarakat — dan hampir semuanya adalah Master Guide. Mereka datang membawa alat peraga, materi yang sudah disiapkan matang, plus cerita lapangan dari pekerjaan ADRA di berbagai wilayah Indonesia.

Sejarah ADRA, peran lembaga dalam respons bencana dan pembangunan komunitas, hingga bagaimana seorang Pathfinder bisa terlibat dalam pelayanan nyata — semuanya disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna pelajar.

Belajar Berlanjut di Sekolah Masing-Masing

Dari empat tanda kepahaman ADRA, satu di antaranya — Disaster Response (Basic) — diselesaikan langsung di kelas selama camporee, sehingga peserta menerima tanda kepahaman tersebut di lokasi.

Sementara itu, tiga tanda kepahaman lainnya — Community Assessment, Community Services, dan Community Development — memerlukan tahap lanjutan. Setiap sekolah membawa pulang tugas berupa proyek nyata yang harus dilaksanakan di komunitasnya, di bawah bimbingan guru-guru pendamping di sekolah masing-masing. Setelah proyek tuntas dilaksanakan, peserta berhak menerima ketiga tanda kepahaman tersebut. Tim Community Service tercatat sebagai tim yang paling siap menjalankan tugas lanjutan ini.

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan ADRA Honors: membekali peserta dengan keterampilan yang langsung dipraktikkan di komunitas masing-masing.

Catatan Menuju Camporee Berikutnya

Panitia mencatat bahwa perencanaan dan koordinasi harian masih bisa ditingkatkan untuk perhelatan berikutnya. Tapi yang jauh lebih penting telah tercapai: 1.800 anak muda pulang membawa lebih dari sekadar foto kemping dan patch baru di seragam. Mereka pulang dengan tugas — dan dengan pemahaman bahwa pelayanan kemanusiaan dimulai dari hal-hal sederhana yang mereka kerjakan di kampung halaman sendiri.

“Speak Lord” — dan generasi ini sedang belajar untuk mendengarkan, lalu bergerak.

Berita terkait lainnya

id_IDIndonesian