{"id":21230,"date":"2021-04-09T08:16:08","date_gmt":"2021-04-09T01:16:08","guid":{"rendered":"https:\/\/adraindonesia.org\/?p=21230"},"modified":"2021-04-09T08:39:18","modified_gmt":"2021-04-09T01:39:18","slug":"kisah-penyintas-gempa-sulbar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/kisah-penyintas-gempa-sulbar\/","title":{"rendered":"Ibu Mulyati - Penyintas Gempa Sulawesi Barat"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"21230\" class=\"elementor elementor-21230\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-192e108 elementor-section-full_width elementor-section-stretched elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"192e108\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\" data-settings=\"{&quot;stretch_section&quot;:&quot;section-stretched&quot;}\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-25 elementor-top-column elementor-element elementor-element-28cbdfe\" data-id=\"28cbdfe\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap\">\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-50 elementor-top-column elementor-element elementor-element-46c38b5\" data-id=\"46c38b5\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-bd0c820 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"bd0c820\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Gempa yang pertama siang itu membuat kami sekeluarga panik dan lari berhamburan keluar rumah. Saya melihat tetangga-tetangga saya juga sudah berada diluar rumah mereka pada saat itu. Gempa pertama itu cukup kuat tetapi tidak menyebabkan kerusakan. Pemerintah desa mengingatkan kami untuk berhati-hati karena gempa susulan dan tsunami bisa terjadi kapanpun karena lokasi desa kami sangat dekat dengan laut. Sepanjang siang kami bersama warga lainnya mengungsi ketempat lebih tinggi dan aman.\u00a0<\/p><p>Pada malam harinya saya dan keluarga memutuskan untuk kembali ke rumah untuk beristirahat dengan tetap waspada dan siap siaga. Dan benar apa yang kami takutkan terjadi,, pada tanggal 15 Februari 2021, tepat jam 02:28 WITA dini hari gempa susulan yang sangat kuat menggoncang kembali desa kami, karena begitu kuatnya, jendela rumah saya yang terkunci rapat bisa terbuka dengan sendiri. Saya berhasil menyelamatkan diri dengan meloncat keluar dari jendela tersebut. Saya sempat melihat tembok-tembok rumah kami rubuh semuanya. Walaupun kehilangan harta benda, kami sekeluarga tetap bersyukur karena selamat dari bencana ini.\u00a0<\/p><p>Saat itu keadaan gelap gulita karena aliran listrik putus akibat gempa dan hujan yang sangat deras menambah parah keadaan. saya mendengar orang-orang menangis dan berteriak memanggil dan mencari keluarganya, sambil berusaha mencari jalan untuk mengungsi ketempat lebih tinggi. \nKami benar-benar tidak siap, di tempat pengungsian pun tidak tersedia tenda atau tempat bernaung yang memadai, banyak warga yang basah kuyup kedinginan, beberapa dari mereka yang luka-luka karena tertimpa reruntuhan rumahnya dirawat seadanya. Dengan penerangan seadanya, warga desa berusaha mendirikan naungan sementara dari apa saja yang mereka bisa temukan. Sungguh sedih saya mengambarkan suasana pada waktu itu, dengan pakaian basah kuyup dibadan, kami menunggu pagi datang dan berharap bantuan segera datang.\u00a0<\/p><p>\u00a0Kisah diatas diceritakan oleh Ibu mulyati salah satu penerima bantuan tenda darurat ADRA di Petakeang, Galung, Tapalang, Sulawesi Barat. Ibu Mulyati memiliki sembilan orang anak, lima orang perempuan dan 4 orang anak laki-laki, dan 3 orang cucu. Desa ini adalah salah satu desa yang paling terdampak kurang lebih 90% rumah di desa ini rusak parah, satu orang meninggal dunia dan banyak yang luka parah.<\/p><p>ADRA telah menyalurkan Tenda darurat untuk 2.200 keluarga serta dana bantuan non-tunai multiguna untuk 2.360 keluarga penyintas bencana gempa bumi Sulawesi Barat.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-82d4242 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"82d4242\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"450\" src=\"https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8-1024x576.jpg\" class=\"attachment-large size-large wp-image-21249\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8-300x169.jpg 300w, https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8-768x432.jpg 768w, https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8-16x9.jpg 16w, https:\/\/adraindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8.jpg 1920w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f3c8430 elementor-blockquote--skin-quotation elementor-widget elementor-widget-blockquote\" data-id=\"f3c8430\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"blockquote.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<blockquote class=\"elementor-blockquote\">\n\t\t\t<p class=\"elementor-blockquote__content\">\n\t\t\t\t<span style=\"white-space: normal\">&nbsp;\u201cSaya sangat bersyukur dan berterimakasih untuk kebaikan hati semua orang yang sudah mau membantu kami disaat sulit ini. \u201d<\/span>\n\t\t\t<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"e-q-footer\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<cite class=\"elementor-blockquote__author\"><span style=\"white-space: normal\">Ibu Mulyati<\/span><\/cite>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-25 elementor-top-column elementor-element elementor-element-ccd67b4\" data-id=\"ccd67b4\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap\">\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>The first earthquake that occurred at the afternoon made us really panic and left house in hurry. My neighbours did the same. That earthquake was strong enough but caused no damage. Our head of the village reminded us to be careful because of the aftershocks and tsunamis that could occur at any time because our [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":21246,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[301],"tags":[],"class_list":["post-21230","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-emergency-response"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21230","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21230"}],"version-history":[{"count":23,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21230\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21259,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21230\/revisions\/21259"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21246"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21230"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21230"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21230"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}