{"id":27205,"date":"2026-05-05T00:14:37","date_gmt":"2026-05-04T17:14:37","guid":{"rendered":"https:\/\/adraindonesia.org\/?p=27205"},"modified":"2026-05-05T00:17:34","modified_gmt":"2026-05-04T17:17:34","slug":"memulihkan-lahan-kritis-desa-taipanggabe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/memulihkan-lahan-kritis-desa-taipanggabe\/","title":{"rendered":"Memulihkan Lahan Kritis Desa Taipanggabe"},"content":{"rendered":"\n<p>Di balik perannya sebagai seorang pendidik, Erlin (43), seorang guru honorer di Desa Taipanggabe, kini mengemban misi besar bagi kelestarian lingkungan di desanya. Sejak Februari 2025, Erlin dipercaya memimpin Kelompok Tani Hutan (KTH) Maroso, sebuah kelompok yang menjadi wadah bagi 34 warga setempat terdiri dari 22 laki-laki dan 12 perempuan untuk bergerak di sektor kehutanan dan pertanian.<br>Melalui program bantuan bibit yang disalurkan oleh ADRA, KTH Maroso mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi lahan mereka. Namun, di tengah populernya bibit komoditas bernilai ekonomi cepat seperti kakao dan durian, Erlin mengambil sikap yang berbeda. Ia secara tegas menyatakan prioritasnya pada penanaman bibit pohon kayu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Prioritas Ekologis di Lahan Kritis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Erlin, pilihan ini bukan didasarkan pada pengabaian nilai ekonomi tanaman buah, melainkan atas kesadaran mendalam terhadap kondisi geografis desanya. Desa Taipanggabe saat ini menghadapi tantangan serius berupa luasnya lahan kritis yang mengancam stabilitas ekosistem.<br>Secara spesifik, Erlin memusatkan perhatian pada lahan pribadinya yang terletak di kawasan dengan kemiringan ekstrem di sepanjang bantaran Sungai Sombe. Lokasi yang rawan erosi dan longsor ini menuntut penanganan vegetatif yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Saya sangat menginginkan lebih banyak pohon kayu untuk ditanam, terutama di kebun saya sendiri. Bukan berarti bibit kakao atau durian tidak bagus, namun melihat kondisi lahan kritis di desa kami yang cukup luas, serta posisi kebun saya yang berada di kemiringan daerah Sungai Sombe, keberadaan pohon kayu menjadi kebutuhan yang sangat mendesak,&#8221; jelas Erlin.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Prioritas Ekologis di Lahan Kritis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai Ketua KTH Maroso, Erlin memandang pohon kayu sebagai &#8220;benteng pertahanan alam&#8221;. Ia meyakini bahwa sistem perakaran pohon kayu yang dalam dan kuat adalah solusi utama untuk memperbaiki tatanan tanah yang mulai rusak serta menjaga struktur tanah agar tidak tergerus oleh aliran sungai.<br>Keputusan Erlin mencerminkan visi seorang guru yang melampaui kepentingan saat ini. Ia memandang menanam kayu sebagai investasi jangka panjang bagi keberlangsungan hidup masyarakat desa di masa depan.<br>&#8220;Setidaknya melalui upaya yang saya mulai dari kebun sendiri dan melalui langkah kolektif di KTH Maroso, kami berharap dapat memberikan dampak positif bagi desa di masa depan. Saya ingin melihat Taipanggabe kembali hijau, pulih, dan memiliki tatanan tanah yang kokoh,&#8221; tutupnya.<br>Inisiatif yang dipimpin oleh Erlin menjadi bukti bahwa sinergi antara kesadaran lingkungan dan aksi nyata dari tingkat tapak adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman lahan kritis di pedesaan.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik perannya sebagai seorang pendidik, Erlin (43), seorang guru honorer di Desa Taipanggabe, kini mengemban misi besar bagi kelestarian lingkungan di desanya. Sejak Februari 2025, Erlin dipercaya memimpin Kelompok Tani Hutan (KTH) Maroso, sebuah kelompok yang menjadi wadah bagi 34 warga setempat terdiri dari 22 laki-laki dan 12 perempuan untuk bergerak di sektor kehutanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":27207,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[355],"tags":[47,333],"class_list":["post-27205","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cgcl","tag-adra","tag-sulawesi-tengah"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27205","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27205"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27205\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27206,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27205\/revisions\/27206"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27207"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27205"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27205"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/adraindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27205"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}